“Beli Ecobag = Tanam Pohon” merupakan inisiatif kolaboratif antara KeMANGI, IKAMaT, dan PT Versuni Homelife Indonesia serta Philips Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Melalui program ini, setiap pembelian ecobag berkontribusi langsung pada penanaman bibit mangrove dalam mendukung upaya pelestarian alam secara berkelanjutan, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan mendukung upaya konservasi ekosistem mangrove.
Pemantauan bibit mangrove adalah proses monev terhadap kondisi, persentase pertumbuhan, dan persentase kelulushidupan bibit mangrove yang telah ditanam dalam suatu periode waktu tertentu.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan keberhasilan penanaman, mengidentifikasi faktor pendukung maupun penghambat pertumbuhan, dan memberikan data yang akurat untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan konservasi ekosistem mangrove secara berkelanjutan di masa yang akan datang.
Pemantauan kali ini dilakukan oleh Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Fitriya A. Setyani (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang memantau 52 bibit mangrove hasil program “Beli Ecobag = Tanam Pohon” Periode ke-2 dari hasil kerja sama KeMANGI, IKAMaT, dan PT Versuni Homelife Indonesia berjenis Rhizophora mucronata.
“Pada hari ini, kami tim KeMANGI melaksanakan kegiatan pemantauan bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove dari program “Beli Ecobag = Tanam Pohon” Periode ke-2 dari hasil kerja sama KeMANGI, IKAMaT, dan PT Versuni Homelife Indonesia yang dipantau setelah tiga bulan pemantauan,” kata Bambang. “Harapannya pada saat pemantauan bibit mangrove telah melewati masa kritis dan dapat memiliki persentase kelulushidupan dan persentase pertumbuhan yang baik sehingga dapat memberikan dampak baik yang maksimal bagi masyarakat dan lingkungan,” tambahnya.
Hasil monev menunjukkan bahwa bibit mangrove memiliki persentase kelulushidupan sempurna, yakni 100%, dengan persentase pertumbuhan yang signifikan mencapai 13,89% dari tinggi bibit tiga bulan yang lalu.
“Kendala penanaman mangrove di hamparan adalah adanya gangguan dari sampah yang terbawa oleh arus dan gelombang sehingga menutupi substrat dari lokasi penanaman tiga bulan lau. Selain itu, sampah dengan ukuran besar dapat mendorong dan menimbun bibit mangrove sehingga menganggu pertumbuhannya,” ujar Fitriya. “Kondisi ini dapat terjadi karena arus dan gelombang datang dengan intensitas yang besar sambil membawa material sampah yang terbawa dari laut dan kembali ke darat. Dari kejadian ini, dapat dilakukan upaya pembersihan ataupun dengan pemasangan waring untuk perlindungan tambahan bibit mangrove,” jelasnya lebih lanjut.
Ekosistem mangrove memiliki manfaat yang sangat besar. Secara umum, terdapat tiga fungsi pokok ekosistem mangrove, yaitu fungsi fisik, fungsi ekologis, serta fungsi ekonomi dan sosial budaya. Fungsi fisik mangrove antara lain sebagai pemecah gelombang dan pencegah abrasi pantai, penghambat intrusi air laut, serta pelindung wilayah pesisir dari badai.
Secara ekologis, ekosistem mangrove berfungsi sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai fauna pesisir, sekaligus menjadi habitat penting bagi beragam keanekaragaman hayati. Adapun fungsi ekonomi dan sosial budaya berkaitan dengan pemanfaatan ekosistem mangrove secara berkelanjutan, antara lain sebagai sarana ekowisata dan edukasi, pengolahan produk mangrove bukan kayu, serta peningkatan hasil tangkapan perikanan di sekitar kawasan mangrove.
Selain itu, ekosistem mangrove memiliki kemampuan penyimpanan karbon yang sangat besar, yakni tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan hutan terestrial di daratan. Oleh karena itu, penanaman bibit mangrove menjadi salah satu upaya efektif dalam mengurangi jejak emisi karbon serta berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan baik dan lancar yang diakhiri dengan sesi pendokumentasian hasil pemantauan untuk keperluan pelaporan dan evaluasi lebih lanjut. (ADM/ARH/BJL/AP).


No comments:
Post a Comment