5.3.26

Penanaman Mangrove Semarang: Tebus Jejak Emisi Karbon di Bumi, Adrian S. Kurniawan dan Rosamaria P. Alifia Pengadopsi Asal Surabaya, Adopsi Empat Bibit Mangrove di SMC Jateng, Semarang

Semarang – KeMANGI. Pada era dan masa di mana perubahan iklim semakin terasa, berbagai kalangan mencoba upaya-upaya untuk memitigasi dampak perubahan iklim, seperti transisi menuju energi terbarukan, efisiensi energi tidak terbarukan, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan rehabilitasi dan konservasi ekosistem dan lingkungan. Salah satu dari upaya tersebut adalah rehabilitasi dan konservasi ekosistem dan lingkungan. (10/2/2026). 

Rehabilitasi dan konservasi ekosistem menjadi salah satu upaya penting dalam menghadapi perubahan iklim. Hal ini karena berbagai ekosistem alami, seperti hutan, mangrove, lamun, dan lahan gambut, memiliki peran penting dalam siklus karbon di bumi. 

Ekosistem tersebut mampu menyerap dan menyimpan karbon dari emisi gas rumah kaca di atmosfer melalui proses alami, sehingga dapat membantu mengurangi efek rumah kaca dan dampak perubahan iklim. Salah satu di antara ekosistem penting adalah ekosistem mangrove. 

Apabila dibandingkan dengan hutan terestrial ekosistem mangrove memiliki kemampuan penyimpanan karbon tiga hingga lima kali lebih besar, sehingga ekosistem mangrove dapat menjadi salah satu solusi dalam mitgasi perubahan iklim yang cukup efektif dan efisien. Selain itu, berbagai manfaat lain dari ekosistem mangrove yang lain ikut memperkuat dilaksanakannya rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove. 

Oleh karena itu, KeMANGI melalui salah satu programnya, yaitu Adopsi Mangrove memberikan kesempatan untuk berbagai kalangan yang terkendala jarak, waktu, dan tenaga untuk ikut serta dalam kegiatan rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove tanpa harus terjun langsung ke lokasi. 

KeMANGI diwakili oleh Rena Sagita (Staf Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Fitriya A. Setyani (Staf Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan) untuk kemudian melaksanakan kegiatan Adopsi Mangrove. 

Rena menyampaikan bahwa salah satu yang ikut dalam gerakan rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove serta penghapusan jejak emisi karbon di bumi adalah Adrian S. Kurniawan dan Rosamaria P. Alifia, pengadopsi asal Surabaya yang mengadopsi sejumlah empat bibit mangrove berjenis Rhizophora mucronata di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng). 

“Saya telah membantu menanam dan memantaukan empat bibit mangrove dari pengadopsi atas nama Adrian S. Kurniawan dan Rosamaria P. Alifia, pengadopsi asal Surabaya yang mengadopsi mangrove jenis Rhizophora mucronata sejumlah empat bibit,” kata Rena. “Semoga bibit yang ditanam dari pengadopsi ini dapat menjadi manfaat bagi pengadopsi dan menjadi manfaat bagi lingkungan sebagai mitigasi dari dampak perubahan iklim yang semakin terasa,” tambahnya. 

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan. (ADM/ARH/RS/AP).

No comments:

Post a Comment